Gunung
Anak Krakatau lahir kembali dari kedalaman 180 meter, pascaerupsi tahun 1883,
dan terus bertambah tinggi hingga saat ini, Perairan Selat Sunda, Rabu
(17/8/2011). Gunung di tengah Perairan Selat Sunda di antara Pulau Jawa dan
Sumatera ini menarik untuk dicermati, tak hanya dari atas, tapi juga dari bawah
permukaan air tempat ia berada.
15
Agustus 2011. Langit cerah tanpa awan. Matahari terasa dekat, teriknya
memanggang. Puncak Anak Krakatau menyemburkan asap tipis, delapan puluh meter
dari jangkauan. Batuan lepas berguguran saat diinjak dan udara bertuba
menyesakkan napas.
Sejauh
mata memandang di ketinggian itu hanyalah batuan runcing, pasir, abu, dan
bom—batuan pijar yang setelah mendingin tampak seperti gumpalan lumpur berwarna
hitam legam tetapi sangat keras dan pejal. Bom yang saat dilontarkan bersuhu
lebih dari 600 derajat celsius itu menciptakan lubang-lubang di dalam tanah,
sebagian menghanguskan tanaman. Suhu pada permukaan tanah tercatat mencapai 45 derajat
celsius.
Semakin
ke atas menuju puncak, daratan tertutup lapisan putih kekuningan berbau
belerang. Di balik lapisan putih itu, bumi seperti bergolak, panasnya menguar
dan menyengat kulit. Pada kedalaman setengah meter bisa mencapai 60 derajat
celsius.
Kondisi
lingkungan yang ekstrem membatasi perkembangan vegetasi hanya pada zona di
bawah 200 meter dari permukaan laut (mdpl). Cemara laut (Casuarina
equisetifolia) hanya bertahan di pesisir pantai. Di beberapa bagian terdapat
tegakan campuran waru laut (Hibiscus tiliaceus), mara (Macaranga tanarius), dan
beringinan (Ficus fulva dan Ficus septica).
"Sebelum
letusan Oktober-November 2010, di kawasan ini masih banyak paku-pakuan. Bahkan
cemara juga sudah mulai tumbuh. Semua tersapu habis sekarang," kata
Tukirin Partomihardjo (59). Selama 30 tahun, profesor botani dari Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu meneliti suksesi ekologis di Krakatau. Dia
mendata spesies yang datang dan hilang di Krakatau.
Menurut
Tukirin, tak diragukan lagi, Anak Krakatau yang kerap meletus menyebabkan
kehidupan muskil hadir di zona 200 mdpl hingga ke puncaknya di ketinggian
sekitar 286 mdpl. Suasana "kekosongan" itu mengingatkan pada catatan
Rogier DM Verbeek, geolog Belanda, yang datang ke Krakatau pada 11 Oktober 1883
atau enam minggu setelah letusan hebat mengguncang pada 27 Agustus 1883.
"Permukaan tanah asli terkubur lapisan abu dan batu apung. Daerah ini
masih sedemikian panasnya, sehingga beberapa pemikul barang yang bertelanjang
kaki terus berjingkat-jingkat seperti menari."
Verbeek
menjadi orang pertama di Rakata, kepingan pulau yang tersisa setelah Krakatau
meletus. Pulau Krakatau yang semula tersusun dari tiga puncak, yaitu Danan (450
mdpl), Perbuatan (120 mdpl), dan Rakata (822 mdpl), kemudian runtuh ke dalam
laut. Hanya tersisa setengah tubuh Rakata yang berbentuk bulan sabit menghadap
kaldera yang tersembunyi di kedalaman 180 meter di bawah permukaan laut.
Sedangkan Pulau Sertung dan Panjang, sisa kaldera tua sebelum letusan 1883 yang
berada di lingkar luar Pulau Krakatau semakin bertambah luas dan tinggi karena
tertimbun abu dan batu apung sampai ketebalan lebih dari 50 meter.
Pada
waktu itu, daratan Rakata masih terlalu panas. Verbeek menyaksikan air hujan
yang berubah menjadi uap saat menyentuh lantai pulau yang panas. Aliran lumpur
mengucur dari tebing yang dilapisi lava. Ia tak melihat tanda-tanda kehadiran
makhluk hidup di sana.
Sertung
dan Panjang juga tak menyisakan kehidupan, selain tonggak-tonggak kayu mati
yang hangus terbakar. Gambaran tentang hutan lebat dalam sketsa John Webber,
anggota tim ekspedisi Kapten James Cook yang menyinggahi Krakatau dan
pulau-pulau di sekelilingnya sebelum 1883, sama sekali tak terlihat jejaknya.
Verbeek pun berkesimpulan, seluruh kehidupan di pulau itu pasti telah musnah.
Pendapat
itu kemudian didukung sejumlah ahli botani, seperti Melchior Treub, Direktur
Kebun Raya Bogor (1880-1909) sehingga memunculkan konsep tentang area kosong
(clean slate) atau tabula rasa. Treub (1888) meyakini, seluruh kehidupan di
kawasan Krakatau musnah karena abu vulkanik yang sangat panas dan batu apung
menutup kawasan ini dari pantai sampai titik tertinggi hingga ketebalan 80
meter.
Namun,
pendapat lain dikemukakan Cornelis Andreis Backer, anak buah Treub. Pada tahun
1908, dia mengunjungi Krakatau dan berpendapat bahwa terdapat akar, benih, dan
organisme tanah yang mungkin bertahan dalam lubang yang terlindung di beberapa
tempat di bagian selatan Rakata. Pendapat ini dibuatnya setelah dia melihat
adanya batang kayu besar yang masih segar di bawah timbunan batu apung. Di
lereng agak tinggi di bagian selatan, dia juga menemukan abu tidak terlalu
tebal menutupi. Dia berpendapat bahwa musim hujan pada bulan September dan
Oktober 1883 mungkin menyebabkan bertahannya kehidupan.
Tukirin
menolak pendapat Backer. "Batang kayu yang ditemukan Backer bukan dari
Rakata, tetapi dibawa gelombang laut beberapa tahun setelah letusan, lalu
tertimbun longsoran batu apung," katanya.
Tukirin
semakin yakin bahwa letusan Krakatau pada 1883 telah menciptakan tabula rasa
setelah dia menemukan tonggak kayu menjadi arang, yang tersingkap di tebing
pantai Rakata. "Arang kayu itu tertimbun batu apung dan pasir hingga
kedalaman lebih dari 20 meter meter. Tidak mungkin ada kehidupan bertahan di
bawah timbunan sedalam itu," katanya.
Hilangnya
seluruh kehidupan setelah letusan 1883 atau adanya beberapa kehidupan yang
bertahan masih menjadi perdebatan dengan bukti dan alasan masing-masing.
"Kontroversi ini menjadi begitu mapan sehingga ia sudah lama diberi nama
the Krakatoa (Krakatau) problem," tulis Simon Winchester (2003).
Namun,
bagaimana pun kerasnya perdebatan, setiap ahli botani tetap saja tergelitik
untuk mengetahui bagaimana kehidupan mengisi Krakatau pasca-letusan besar itu?
Kapan, siapa atau apa, yang pertama kali datang dan mengolonisasi tabula
rasa—atau setidaknya nyaris seperti tabula rasa itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar